Efektivitas
Penerapan Pembelajaran
Model Problem Based Learning (PBL) terhadap Hasil Belajar Fiqih
di MA Nahdlatul Muslimin Undaan, Kudus
M
Sufyan1, Sudarsono2, Machrus3
email: yazza.oefi@gmail.com1, masdarsono@gmail.com2,
cakmachrus@gmail.com3
MA
Nahdlatul Muslimin Undaan, Kudus
ABSTRAK
Penelitian ini membahas Efektivitas Penerapan Pembelajaran Model
Problem Based Learning (PBL) dalam konteks pembelajaran Fiqih di
Madrasah Aliyah Nahdlatul Muslimin yang berlokasi di jalan
Kudus Purwodadi KM.11 Undaan Kidul, Undaan, Kudus. Studi ini bertujuan untuk
mengidentifikasi sejauh mana PBL dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap
materi Fiqih dan mengoptimalkan pencapaian hasil belajar mereka di lingkungan
Madrasah. Metodologi penelitian melibatkan pengumpulan data kuantitatif dan
kualitatif untuk mendapatkan pemahaman menyeluruh tentang efektivitas PBL dalam
konteks ini. Hasil penelitian ini dapat memberikan panduan berharga bagi para
pendidik dan pengambil kebijakan Madrasah dalam meningkatkan metode
pembelajaran dan hasil belajar siswa, khususnya dalam bidang Fiqih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa evaluasi nilai rata-rata pada
ulangan harian 1 yaitu 76,55 dan pada ulangan harian ke 2 nilai
rata-rata harian peserta didik adalah 85,65. Selanjutnya dari aspek pisikomotorik nilai rata-rata peserta
didik untuk penugasan individu pada ulangan harian 1 adalah 83,3. Nilai rata-rata peserta didik untuk kinerja pada
ulangan harian 2 adalah 88,4. Dari hasil,
pelaksanaan penerapan
pembelajaran model Problem
Based Learning (PBL) di kelas X baik dari aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik adalah
efektif digunakan dalam pembelajaran fiqih pada materi zakat. Hal ini dapat dilihat dari nilai rata-rata
ulangan harian 1 dan ulangan
harian 2 nilai rata-rata peserta didik meningkat
dan memenuhi KKM yang telah ditentukan oleh sekolah yaitu nilai 75.
Kata Kunci:
Efektivitas, Model Problem Based Learning, Hasil
Belajar
A. PENDAHULUAN
Pendidikan
merupakan suatu proses sistematis yang dirancang untuk mentransfer pengetahuan,
keterampilan, nilai, dan norma kepada generasi baru. Lebih dari sekadar
pengajaran, pendidikan mencakup upaya-upaya untuk membentuk perkembangan fisik,
intelektual, emosional, dan sosial individu. Berikut adalah beberapa dimensi
penting dari pendidikan:
1. Pengembangan Pengetahuan: Pendidikan bertujuan untuk
menyampaikan pengetahuan tentang berbagai disiplin ilmu, membantu siswa
memahami dunia sekitar, dan mengembangkan landasan pengetahuan yang kokoh.
2. Pengembangan Keterampilan: Selain pengetahuan, pendidikan juga
berfokus pada pengembangan keterampilan praktis yang diperlukan dalam kehidupan
sehari-hari dan dunia kerja. Ini termasuk keterampilan berpikir kritis,
kreativitas, komunikasi, dan kolaborasi.
3. Pembentukan Karakter: Pendidikan berperan penting dalam
membentuk karakter individu. Ini mencakup pemberian nilai-nilai etika, moral,
dan sosial yang akan membimbing perilaku dan keputusan siswa.
4. Sosialisasi: Pendidikan membantu siswa berintegrasi ke dalam
masyarakat dengan mengajarkan norma-norma sosial, budaya, dan perilaku yang
diterima dalam suatu masyarakat.
5. Pemberdayaan: Pendidikan memberikan alat bagi
individu untuk meningkatkan diri dan mencapai potensi maksimal mereka. Ini
memberikan kesempatan untuk meraih keunggulan pribadi dan profesional.
6. Pemajuan Perubahan Sosial: Pendidikan juga dapat menjadi
kekuatan pemacu perubahan sosial. Dengan membangun pemahaman yang lebih baik,
pendidikan dapat mengubah pola pikir dan sikap masyarakat terhadap isu-isu
tertentu.
7. Persiapan untuk Masa Depan: Pendidikan membekali individu dengan
pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk menghadapi tantangan masa
depan. Ini mencakup persiapan untuk karir, kehidupan pribadi, dan partisipasi
aktif dalam masyarakat.
Sebagai suatu
proses holistik, pendidikan memiliki dampak mendalam pada pembentukan individu
dan masyarakat secara keseluruhan. Dengan memberikan dasar yang kuat,
pendidikan berperan penting dalam membentuk masa depan dan mengarahkan evolusi
sebuah bangsa.
Pendidikan merupakan salah satu pilar kehidupan bangsa proses sosial
yang esensial yang memungkinkan generasi muda hidup eksis dan kompleksitas sosial,
modernisasi ekonomi, serta
kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (Danim, 2013). Pendidikan juga merupakan proses budaya untuk meningkatkan
harkat dan martabat manusia yang diperoleh melalui
proses yang panjang dan berlangsung sepanjang hayat. Hal ini sesuai
dengan firman Allah dalam Q.S. al-Mujadalah
(58) ayat 11.
Yang
artinya: Wahai
orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, berilah kelapangan di dalam majelis-majelis, ”maka lapangkanlah, niscaya
Allah akan memberi
kelapangan untukmu. Dan
apabila dikatakan, berdirilah kamu,” maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang beriman
di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu
beberapa derajat. Dan Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan
(Departemen Agama RI, 2015).
Sebagai unsur terpenting dari pendidikan, guru
memiliki peran kritis dalam membentuk dan memandu perkembangan siswa. Guru
bukan hanya penyampai informasi, tetapi juga menjadi fasilitator pembelajaran
yang memotivasi, menginspirasi, dan membimbing siswa dalam proses pembelajaran.
Peran guru tidak hanya terbatas pada transfer pengetahuan, tetapi juga
melibatkan pembentukan karakter, pengembangan keterampilan sosial, dan
penanaman nilai-nilai etika.
Guru yang efektif dapat menciptakan lingkungan
pembelajaran yang positif, mendorong kreativitas, dan merangsang minat siswa
terhadap pengetahuan. Mereka memiliki kemampuan untuk memahami kebutuhan
individual siswa, menggunakan berbagai metode pengajaran, dan menyesuaikan
pendekatan mereka sesuai dengan gaya belajar siswa. Selain itu, guru juga
berperan sebagai model peran yang dapat menginspirasi siswa untuk mengembangkan
sikap positif, semangat belajar, dan tanggung jawab terhadap diri sendiri dan
masyarakat.
Dengan demikian, peran guru sebagai unsur
terpenting dalam pendidikan tidak hanya mencakup penyampaian materi pelajaran,
tetapi juga melibatkan pembentukan karakter, pengembangan keterampilan, dan
pemberian dorongan kepada siswa untuk mencapai potensi penuh mereka. Inilah yang mendorong banyak pengamat dan praktisi pendidikan melakukan penelitian dibanding
pembelajaran. Pembelajaran dengan penerapan model Problem Based Learning (PBL) diharapkan siswa untuk terlibat dalam proses
penelitian yang mengharuskan untuk identifikasi masalah, pengumpulan data dan menggunakan data tersebut untuk pemecahan
masalah (Sari & Sumardi, 2015). Problem Based Learning (PBL) adalah strategi pembelajaran yang bertumpu pada kreativitas, inisiatif, inovasi, dan motivasi
para siswa. Dengan Problem Based Learning
(PBL), proses pembelajaran banyak bertumpu pada kegiatan para siswa secara mandiri, sementara guru bertindak sebagai disainer,
perancang, fasilitator, motivator, atas terjadinya kegiatan pembelajaran tersebut. Melalui Problem Based Learning (PBL), seorang peserta didik akan memiliki keterampilan dalam
memecahkan masalah yang selanjutnya dapat ia terapkan pada saat ini menghadapi masalah yang sesungguhnya di masyarakat (Arif & Waskito, 2020).
Efektivitas merupakan suatu bagian yang sangat penting
dalam proses pembelajaran, karena
mampu memberikan gambaran mengenai keberhasilan seseorang dalam tujuannya atau suatu tingkatan terhadap tujuan-tujuan
yang ingin dicapai, yaitu peningkatan pengetahuan dan keterampilan serta pengembangan sikap melalui proses
pembelajaran (Ismawati, 2013). Selain itu dapat diartikan bahwa efektivitas ialah suatu keadaan
dan ukuran seauhmana
manfaat tercapainya tujuan yang telah tercapai (Datau & Muh. Arif, 2020).
Masalah yang terjadi
dalam dunia pendidikan saat ini, yaitu lemahnya proses pembelajaran.
Peserta didik kurang didorong untuk meningkatkan kemampuan berfikir. Dalam proses
pembelajaran yang ada di dalam kelas peserta
didik dituntut untuk
menghafal danmengingat
informasi atau materi yang kemudian menghubungkannya dengan kehidupan sehari- hari. Akibatanya, ketika peserta didik
lulus mereka pintar dalam segi teoretis tetapi mereka miskin aplikasi dan pasif. Oleh karena itu perlunya peningkatan
kualitas pembelajaran dengan melakukan
berbagai cara. Salah satu cara adalah mengembangkan pendekatan, strategi,
model, dan metode pembelajaran
yang sudah ada.
Model pembelajaran Problem Based
Learning (PBL) adalah model pembelajaran yang menyajikan suatu permasalahan untuk dipecahkan dengan kemampuan
berpikir yang tinggi. Permasalahan
yang disajikan dalam model pembelajaran inipun merupakan permasalahan nyata yang dapat dialami oleh seseorang
sehingga dengan diterapkannya model
pembelajaran ini dapat memberikan
pengalaman secara nyata dan langsung kepada para siswa terutama dalam memecahkan permasalahan nyata yang dapat saja terjadi dalam kehidupan sehari-hari (Asriningtyas et al.,
2018).
Model pembelajaran Problem Based Learning (PBL)
adalah salah satu model pembelajaran yang dapat menyediakan lingkungan
belajar yang mendukung berpikir kritis. Problem Based Learning
(PBL) didasarkan pada situasi bermasalah dan membingungkan sehingga akan membangkitkan rasa ingin
tahu siswa sehingga siswa tertarik untuk menyelidiki permasalahan tersebut. Pada saat siswa melakukan penyelidikan,
maka siswa menggunakan tahapan berpikir
kritis untuk menyelidiki masalah, menganalisa berdasarkan bukti dan mengambil
keputusan berdasarkan hasil penyelidikan (Nafiah & Suyanto, 2014).
Strategi Problem Based Learning (PBL) yang di
dalamnya telah dirancang masalah- masalah yang dapat menuntut
peserta didik mendapatkan pengetahuan dan mahir dalam memecahkan masalahnya sendiri serta memiliki kecakapan
beradaptasi dengan masyarakat tempat ia tinggal. Dilihat dari aspek psikologi pembelajaran
berbasis masalah tersandarkan kepada
psikologi kognitif yang berangkat dari asumsi bahwa belajar
adalah proses perubahan tingkah laku
berkat adanya pengalaman belajar bukan semata mata proses menghafal sejumlah fakta
tetapi suatu proses interaksi secara sadar antara individu dan
lingkunganya. Melalui proses ini sedikit demi sedikit peserta
didik akan berkembang secara utuh artinya;
perkembangan peserta didik
tidak hanya terjadi pada aspek kognitif tetapi juga aspek afektif, dan psiokomotorik.
Di dalam penerapan
kurikulum 2013 semua guru dituntut untuk mengganti strategi
pembelajaran, yakni yang mendorong
peserta didik lebih aktif dalam berfikir dan
memahami materi secara
kelompok dengan melakukan investigasi dan ingkuiri
terhadap permasalahan yang nyata di sekitarnya. Sehinga mereka mendapatkan kesan yang mendalam
dan lebih bermakna tentang apa yang mereka pelajari.
Salah satu strategi dalam kurikulum 2013 adalah strategi Problem Based
Learning (PBL).
Mata pelajaran Fiqih sangat berhubungan erat dengan dunia nyata peserta
didik, misalnya taharah,
shalat, zakat, haji dan umrah, merawat
jenazah, jual beli, warisan dan lain-
lain. Untuk itu seorang guru harus kreatif dalam menyampaikan materi
pelajaran, menciptakan kondisi
pembelajaran yang menyenangkan bagi peserta
didik, sehingga peserta didik merasa tertarik dan mampu memahami
materi yang disampaikan oleh guru secara maksimal. Kerangka
berpikir di atas menggambarkan bahwa mata pelajaran
Fiqih merupakan mata pelajaran yang penting untuk diajarkan kepada peserta didik. Keberhasilan proses pembelajaran
terlihat antara lain dari hasil belajar peserta didik. Sehingga
standar bagi keberhasilan belajar biasanya ditetapkan dengan nilai hasil belajar peserta didik. Hasil belajar
pada dasarnya adalah suatu kemampuan yang berupa keterampilan dan perilaku baru sebagai akibat latihan atau pengalaman.
Soedijarto, mendefinisikan hasil belajar sebagai tingkat penguasaan suatu pengetahuan yang dicapai oleh siswa dalam
mengikuti program pembelajaran sesuai dengan tujuan pendidikan yang ditetapkan (Hidayat,
2008).
Di Madrasah Aliyah Nahdlatul
Muslimin Undaan, Kudus penerapan pembelajaran model Problem Based Learning (PBL), sudah diterapkan akan tetapi pelaksanaanya belum dilaksanakan
secara rutin khususnya guru mata
pelajaran Fiqih disebabkan kurangnya sosialisasi yang didapatkan oleh para guru terkait dengan model
pembelajaran Problem Based Learning (PBL).
Model ini cukup mudah dan efisien
serta dapat merangsang peserta didik untuk memecahkan masalahnya sendiri
dalam kehidupan nyata.
B. METODE PENELITIAN
Pada penelitian ini,
merupakan jenis penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif adalah suatu penelitian
yang mendeskripsikan dan menganalisis fenomena, peristiwa, aktivitas sosial,
sikap, kepercayaan persepsi,
pemikiran orang secara individu maupun kelompok. Penelitian ini adalah jenis penelitian deskriptif. Menurut Nazir sebagaimana yang dikutip oleh Andi Prastowo
dalam bukunya yang berjudul “Metode Penelitian Kualitatif dalam Perspektif Rancangan Penelitian” bahwa metode deskriptif adalah suatu
metode yang digunakan untuk meneliti
sekolompok manusia, suatu objek, suatu kondisi, suatu sistem pemikiran, ataupun suatu kelas
peristiwa pada masa sekarang (Andi, 2012).
C. HASIL PENELITIAN
Perencanaan Pembelajaran Problem Based Learning (PBL)
Perencanaan pembelajaran Problem Based Learning (PBL) di Madrasah Aliyah Nahdlatul Muslimin Undaan, Kudus, sebagaimana diungkapkan oleh guru mata pelajaran
Fiqih melalui wawancara. Perencanaan Problem Based
Learning (PBL) terhadap mata pelajaran Fiqih materi zakat
itu sudah dirancang
dan disusun dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Setiap awal semester semua guru diwajibkan membuat perangkat pembelajaran baik Program Tahunan, Program
Semester, Silabus maupun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran. Hal ini diungkapkan oleh kepala sekolah
saat diwawancarai. (Wawancara)
Perencanaan pembelajaran secara umum yang dilakukan oleh
guru dalam memulai pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dengan
membuat perangkat pembelajaran pada awal
semester, salah satunya dengan
mempersiapkan Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran (RPP) baik mulai dari Kompetensi Inti (KI), Kompetensi Dasar
(KD), Indikator, Tujuan Pembelajaran,
Materi Pembelajaran, Metode Pembelajaran, Kegiatan Pembelajaran (Kegiatan Pendahuluan, Kegiatan Inti,
Penutup), Sumber Belajar/Alat dan Media dan Lembar Penilaian.
Tahap pertama yang harus dilakukan
seorang guru sebelum
menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) adalah identifikasi tujuan pembelajaran dengan cara menyesuaikan kurikulum dengan tingkat
kemampuan kognitif, kondisi sosial dan emosional peserta didik. Pengetahuan awal peserta didik tentang strategi
pemecahan masalah dan penguasaan konsep dibutuhkan sebagai
referensi bagi guru dalam menentukan tujuan pembelajaran.
Tahap lanjutan dari perencanaan adalah dengan mendisain
masalah yang diangkat dari kehidupan
nyata yang dekat dengan peserta didik. Harus dilakukan orientasi masalah pada peserta didik atau pengenalan jalan atau
skenario permasalahan disampaikan secara singkat, jelas dan memberikan gambaran tentang fakta-fakta dalam lingkungan sekitar
konteks permasalahan (Nurhadiyanto & Wagiran, 2007).
Pelaksanaan Pembelajaran Problem Based Learning
(PBM)
Pelaksanaan pembelajaran Problem Based Learning (PBL) yaitu pengaplikasian atau menerapkan apa yang telah direncanakan sebelumnya di dalam Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
di dalam proses pembelajaran. Adapun tahapan-tahapan pembelajaran Problem Based Learning (PBL) di Madrasah
Aliyah Nahdlatul Muslimin Undaan, Kudus di Kelas X yaitu sebagai berikut:
a) Orientasi Peserta
Didik pada masalah:
pertama, guru menjelaskan tujuan pembelajaran;
kedua, guru menjelaskan secara
singkat tentang materi zakat, kemudian peserta
didik diberikan permasalahan terkait ketentuan zakat untuk dipecahkan; ketiga, guru memotivasi peserta
didik untuk terlibat
aktif dalam pemecahan
masalah. b) Mengorganisasikan peserta didik untuk
belajar: pertama, guru membagi
peserta didik menjadi empat kelompok
diskusi; kedua, masing-masing kelompok
diberikan permasalahan terkait
materi tentang ketentuan zakat.
Adapun permasalahan yang harus dipecahkan oleh
masing-masing kelompok sebagai berikut: Kelompok 1 membahas tentang contoh penerapan zakat sesuai dengan ketentuan Undang-undang
dengan benar. Kelompok 2 membahas tentang cara ketentuan zakat fitrah dan cara menghitungnya. Kelompok
3 membahas tentang
cara ketentuan zakat mal dan cara menghitungnya. Kelompok 4 menjelaskan hikmah
zakat dengan baik dan benar.
Membimbing Penyelidikan Individual Maupun Kelompok
Membimbing peneyelidikan individual maupun kelompok yakni:
a) Guru memotivasi peserta
didik untuk menemukan jawaban yang berhubungan dengan masalah ketentuan
zakat sesuai dengan tugas masing-masing; b)
Guru menuntut dan mendorong peserta didik untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya yang berkaitan dengan tugas yang telah diperoleh
tentang materi ketentuan zakat
untuk dipecahkan bersama kelompoknya.
Mengembangkan dan Menyajikan Hasil Karya
Setelah mengumpulkan informasi dan jawaban terhadap
permasalahan yang diberikan, kemudian peserta
didik menyajikan hasil karya kelompok
di kertas plano atau karton.
Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah yaitu: 1) Peserta
didik dibimbing guru menganalisis
hasil pemecahan masalah tentang ketentuan zakat; 2) Peserta didik dan guru mengevaluasi penyelidikan melalui diskusi kelas atau presentasikan di depan kelas secara bergantain kemudian dilanjutkan dengan
penyamaan dengan persepsi; 3) Kelompok
peserta didik yang berhasil dalam
memecahkan permasalahan diberikan
penghargaan.
Tahapan-tahapan pembelajaran Problem Based Learning (PBL) di atas sudah dicantumkan pada kegiatan inti dalam Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), sebagaimana yang disampaikan
oleh guru fiqih, dengan berpedoman pada rencana pelaksanaan pembelajan akan terarah dan tidak mengambang jika sesuai dengan apa yang telah direncanakan”
Sebagaimana yang disampaikan oleh kepala Madrasah
saat diwawancarai terkait
dengan pelaksanaan pembelajaran Problem Based Learning (PBL) di Madrasah Aliyah Nahdlatul Muslimin oleh guru Fiqih, bahwa
pelaksanaan pembelajaran Problem Based Learning (PBL) sudah berjalan dengan
baik akan tetapi masih perlu ditingkatkan lagi. Karena tidak semua pembelajaran Fiqih harus menggunakan pembelajaran model
Problem Based Learning (PBL), tetapi harus disesuaikan dengan materi pembelajaran. Adapun strategi yang diharapkan oleh kepala Madrasah Aliyah Nahdlatul Muslimin
adalah strategi pembelajaran yang hasilnya dapat memuaskan baik untuk
seorang guru dalam proses
pembelajaran maupun untuk peserta didik.
Penilaian dan Evaluasi
Pembelajaran Problem Based Learning
(PBL) dilihat dari Aspek Kognitif, Afektif dan Psikomotorik
Untuk penilaian dan evaluasi pembelajaran Problem Based Learning (PBM)
di Madrasah Aliyah Nahdlatul
Muslimin Kelas X tidak hanya dilakukan pada penilaian tertulis seperti yang terlampir dalam rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) akan tetapi penilaian
juga berlansung pada proses pembelajaran. Sebagaimana yang diungkapkan oleh guru mata pelajaran
fiqih bahwa untuk penilaian harus disesuaikan dengan kemampuan peserta didik.
Di dalam penilaian guru tidak boleh membelakangi peserta didik disaat
memberikan pembelajaran,
sehingga guru dapat mengamati peserta didiknya disaat menerima pembelajaran. Untuk menilai kognitif, afektif, dan psikomotorik
peserta didik dalam proses pembelajaran dilihat
dari bagaimana tanggapan atau keaktifan peserta didik, bagaimana caranya
menghargai pendapat teman sejawat, dan bagaimana peserta
didik menjalin kerja sama.
Pada pembelajaran berbasis
masalah sistem penilaian
tidak cukup hanya dengan penilaian
tes tertulis saja, tetapi juga pada hasil dari kegiatan
peserta didik dalam upaya menyelesaikan masalah secara
individual maupun klasikal
dari ranah kognitif,
afektif, dan psikomotrik. Penilaian aspek kognitif
dalam proses pembelajaran dilihat dari keaktifan
peserta
didik
baik kemampuan dalam bertanya, menjawab dan merespon pertanyaan, aspek afektif dilihat
dari bagaimana dia menghargai dan menerima pendapat
teman sejawat, dan dapat bertanggung jawab terhadap tugas yang diberikan, aspek psikomotorik dilihat
dari keterampilan peserta
didik dalam memecahkan permasalahan yang diberikan.
Analisis
Efektivitas Penerapan
Pembelajaran Model Problem Based Learning (PBL) terhadap Hasil Belajar Fiqih Madrasah Aliyah Nahdlatul Muslimin Undaan, Kudus.
Dalam penelitian, untuk melihat efektivitas Penerapan Pembelajaran model Problem
Based Learning (PBL)
terhadap hasil belajar fiqih dilihat dari efektivitas hasil, yaitu
efektivitas yang dapat dilihat berdasarkan hasil evaluasi yang dilaksanakan setiap pertemuan atau selama pembelajaran. Adapun hasil evaluasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah
ulangan harian 1 dan 2 untuk materi
zakat. Dimana hasil ulangan harian 1 adalah hasil evaluasi Fiqih pada
pembelajaran konvensional atau
menggunakan metode ceramah pada pertemuan pertama materi zakat. Untuk ulangan harian 2, adalah hasil evaluasi
pembelajaran menggunakan dengan
menggunakan model Problem Based Learning
(PBL) pada RPP pertemuan 2 materi zakat pada Kelas X
Madrasah Aliyah Nahdlatul
Muslimin. Adapun ulangan
harian Kelas X IPA-1 Madrasah Aliyah al-Falah Limboto
Barat sebagai berikut:
Tabel 1
Hasil Belajar Fiqih Kelas X IPA-1
Ulangan Harian 1
|
No |
Nama |
ULANGAN HARIAN 1 |
||
|
Peng etahuan |
Kete rampilan |
Sikap |
||
|
1 |
AINUN AMINAH |
83 |
88 |
Mulai berkembang sikap displin, jujur, sopan
santun dan mandiri |
|
2 |
ARMAN MAULANA |
80 |
85 |
Mulai berkembang sikap displin, jujur, sopan
santun dan mandiri |
|
3 |
AULIA DIAN
ZELFIANI |
83 |
80 |
Mulai berkembang sikap displin, jujur, sopan
santun dan mandiri |
|
4 |
AYU SAWITRI |
80 |
83 |
Mulai berkembang sikap displin, jujur, sopan
santun dan mandiri |
|
5 |
CHELSEA JALA DARA |
78 |
80 |
Mulai berkembang sikap displin, jujur, sopan
santun dan mandiri |
|
6 |
DAMAI AYU CIPTA |
80 |
83 |
Mulai berkembang sikap displin, jujur, sopan
santun dan mandiri |
|
7 |
DECO FANNI YOHANA |
78 |
80 |
Mulai berkembang sikap displin, jujur, sopan
santun dan mandiri |
|
8 |
DITA PRADITYA |
80 |
85 |
Mulai berkembang sikap displin, jujur, sopan
santun dan mandiri |
|
9 |
DIYAH AYU SAFIRA |
76 |
80 |
Mulai berkembang sikap displin, jujur, sopan
santun dan mandiri |
|
10 |
DWI ANGGITA PUTRI |
80 |
90 |
Mulai berkembang sikap displin, jujur, sopan
santun dan mandiri |
|
11 |
EVI ZULIANI |
80 |
80 |
Mulai berkembang sikap displin, jujur, sopan
santun dan mandiri |
|
12 |
FARHATUS SHOLIHAH |
80 |
87 |
Mulai berkembang sikap displin, jujur, sopan
santun dan mandiri |
|
13 |
FERDIAN LISTIANTO |
78 |
85 |
Mulai berkembang sikap displin, jujur, sopan
santun dan mandiri |
|
14 |
IMROATUN NABILA |
75 |
85 |
Mulai berkembang sikap displin, jujur, sopan
santun dan mandiri |
|
15 |
KHOIRUN NISA' |
80 |
80 |
Mulai berkembang sikap displin, jujur, sopan
santun dan mandiri |
|
16 |
LUQMAN HAKIM |
80 |
85 |
Mulai berkembang sikap displin, jujur, sopan santun dan mandiri |
|
17 |
MUALLIMATUS S. |
80 |
80 |
Mulai berkembang sikap displin, jujur, sopan
santun dan mandiri |
|
18 |
M ANDRA ALIANA |
75 |
80 |
Mulai berkembang sikap displin, jujur, sopan
santun dan mandiri |
|
19 |
M DANI SETIAWAN |
76 |
80 |
Mulai berkembang sikap displin, jujur, sopan
santun dan mandiri |
|
20 |
M FADHLI M |
85 |
90 |
Mulai berkembang sikap displin, jujur, sopan
santun dan mandiri |
|
Rata-rata |
76,55 |
83,3 |
|
|
Tabel 2
Hasil
Belajar Fiqih Kelas X IPA 1 Ulangan
Harian 2
|
No |
Nama |
ULANGAN HARIAN 1 |
||
|
Peng etahuan |
Kete rampilan |
Sikap |
||
|
1 |
AINUN AMINAH |
86 |
88 |
Mulai
berkembang sikap displin, kreatif, kerja
sama dan saling menolong |
|
2 |
ARMAN MAULANA |
86 |
89 |
Mulai
berkembang sikap displin, kreatif, kerja
sama dan saling menolong |
|
3 |
AULIA DIAN
ZELFIANI |
91 |
89 |
Mulai berkembang sikap displin, kreatif, kerja sama dan saling menolong |
|
4 |
AYU SAWITRI |
88 |
86 |
Mulai berkembang sikap displin, kreatif, kerja sama dan saling menolong |
|
5 |
CHELSEA JALA DARA |
86 |
89 |
Mulai berkembang sikap displin, kreatif,
kerja sama dan saling menolong |
|
6 |
DAMAI AYU CIPTA |
88 |
90 |
Mulai berkembang sikap displin, kreatif, kerja sama dan saling menolong |
|
7 |
DECO FANNI YOHANA |
86 |
88 |
Mulai
berkembang sikap displin, kreatif, kerja
sama dan saling menolong |
|
8 |
DITA PRADITYA |
80 |
88 |
Mulai berkembang sikap displin, kreatif, kerja sama dan saling menolong |
|
9 |
DIYAH AYU SAFIRA |
87 |
90 |
Mulai berkembang sikap displin, kreatif,
kerja sama dan saling menolong |
|
10 |
DWI ANGGITA PUTRI |
88 |
90 |
Mulai
berkembang sikap displin, kreatif, kerja
sama dan saling menolong |
|
11 |
EVI ZULIANI |
88 |
88 |
Mulai
berkembang sikap displin, kreatif, kerja
sama dan saling menolong |
|
12 |
FARHATUS SHOLIHAH |
89 |
88 |
Mulai
berkembang sikap displin, kreatif, kerja
sama dan saling menolong |
|
13 |
FERDIAN LISTIANTO |
89 |
88 |
Mulai berkembang sikap displin, kreatif, kerja sama dan saling menolong |
|
14 |
IMROATUN NABILA |
87 |
90 |
Mulai berkembang sikap displin, kreatif, kerja sama dan saling menolong |
|
15 |
KHOIRUN NISA' |
95 |
90 |
Mulai
berkembang sikap displin, kreatif, kerja sama dan saling menolong |
|
16 |
LUQMAN HAKIM |
88 |
86 |
Mulai
berkembang sikap displin, kreatif, kerja
sama dan saling menolong |
|
17 |
MUALLIMATUS S. |
87 |
86 |
Mulai
berkembang sikap displin, kreatif, kerja
sama dan saling menolong |
|
18 |
M ANDRA ALIANA |
87 |
89 |
Mulai
berkembang sikap displin, kreatif, kerja
sama dan saling menolong |
|
19 |
M DANI SETIAWAN |
88 |
86 |
Mulai berkembang sikap displin, kreatif, kerja sama dan saling menolong |
|
20 |
M FADHLI M |
87 |
89 |
Mulai berkembang sikap displin, kreatif, kerja sama dan saling menolong |
|
Rata-rata |
87,5 |
88,4 |
|
|
Dari evaluasi nilai rata-rata kognitif pada ulangan
harian satu yaitu 76,55 dan pada ulangan harian kedua
adalah 87,5. Selanjutnya dari aspek pisikomotorik nilai rata-rata peserta didik untuk penugasan individu pada
ulangan harian pertama adalah 83,3. Nilai
rata-rata peserta didik untuk kinerja pada ulangan harian kedua adalah 88,4.
Dari hasil, pelaksanaan pembelajaran
model Problem Based Learning (PBL) di
Kelas X IPA 1 baik dari aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik adalah efektif digunakan
dalam pembelajaran fiqih pada materi zakat. Hal ini, dapat dilihat
dari nilai rata-rata
ulangan harian 1 dan ulangan
harian 2 nilai rata-rata peserta
didik meningkat dan memenuhi
KKM yang telah ditentukan oleh sekolah yaitu 75.
D. PENUTUP
Kesimpulan
Pelaksanaan Problem
Based Learning (PBL) sudah dilaksanakan sesuai dengan RPP yang telah direncanakan. Dalam hal ini pelaksanaan Problem Based Learning (PBL)
dilaksanakan di kelas X IPA 1 dan sudah dijalankan dengan baik. Analisis
Efektivitas penerapan pembelajaran model Problem
Based Learning (PBL) terhadap hasil belajar fiqih Madrasah Aliyah Nahdlatul Muslimin Undaan, Kudus. Pelaksanaan model Problem
Based Learning (PBL) sudah berjalan dengan efektif pembelajaran fiqih materi zakat baik dari aspek afektif, kognitif, dan psikomotorik peserta
didik. Hal ini ditunjukkan oleh hasil ulangan
harian 1 dan 2 yang mengalami peningkatan. Dalam hasil ulangan harian 1
perolehan nilai rata-rata peserta
didik di kelas X IPA dari aspek psikomotorik adalah
87,5.
Selanjutnya dari aspek psikomotorik rata-rata peserta didik untuk penugasan individu pada ulangan harian 2 adalah 83,3
Nilai rata-rata peserta didik untuk kinerja pada ulangan harian 2 adalah 88,4.
Dengan demikian
penerapan pembelajaran model Problem Based Learning (PBL) ini dpat
menjadikan proses pembelajaran menjadi lebih efektif dan mampu membentuk
pembelajaran yang sederhana dan mudah diterapkan, sehingga dapat menjadi
alternatif pilihan model pembelajaran di kelas.
DAFTAR PUSTAKA
Ampo, I., & Arif, M. (2020). Implementasi Strategi
Hafalan al-Qur’an terhadap Hasil Belajar Siswa di Madrasah Aliyah al-Huda Gorontalo.
Paedagogia: Jurnal Pendidikan, 9(1), 61–
90. https://doi.org/10.24239/pdg.Vol9.Iss1.57
Andi, P. (2012).
Metode Penelitian Kualitatif dalam Perspektif Rancangan Penelitian. Ar- Ruzz Media.
Arif, M., & Waskito, E. (2020). Pengembangan Media Pembelajaran Bahasa Arab.
Insan Cendikia Mandiri.
Asriningtyas, A.
N., Kristin, F., & Anugraheni, I. (2018). Penerapan Model Pembelajaran Problem
Based Learning untuk Meningkatkan Kemampuan
Berpikir Kritis dan Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas 4 SD. JKPM :
Jurnal Karya Pendidikan Matematika, 5(1),
23–32. https://doi.org/https://doi.org/10.26714/jkpm.5.1.2018.23-32
Danim, S. (2013).
Pengantar Kependidikan. Alfabeta.
Datau, D.
A. H., & Muh. Arif. (2020). Efektivitas Penggunaan Video Pembelajaran dalam Meningkatkan Kemampuan Mempraktikkan
Shalat, , Vol. 1, No. 2, 2020, h. 1-15. From:
http://ejurnal.iainlhokseumawe.ac.id/index.php/ziryab/article/view/636/432No Title. Ziryab Jurnal Pendidikan Islam, 1(02), 1–15. https://ejurnal.iainlhokseumawe.ac.id/index.php/ziryab/article/view/636
Departemen
Agama RI. (2015).
Al-Quran dan Terjemahannya. Dipenogoro.
Hidayat, S. (2008). Efektivitas Strategi
Pembelajaran dan Motivasi Belajar Terhadap Hasil Belajar IPA, Sosiohumaniora. Sosiohumaniora, 10(1), 82–98.
https://doi.org/https://doi.org/10.24198/sosiohumaniora.v10i1.5392
Ismawati. (2013). Efektivitas
Pelaksanaan Pembelajaran Fiqih melalui Model Pembelajaran Problem
Based Learning (PBL) untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa. http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/24278
Nafiah, Y. N., & Suyanto,
W. (2014). Penerapan
model problem-based learning
untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan hasil belajar
siswa. Jurnal Pendidikan Vokasi, 4(1), 125–143.
https://doi.org/10.21831/jpv.v4i1.2540
Nurhadiyanto, D., & Wagiran.
(2007). Problem-Based Learning
Alternatif Solusi dalam
Menyiapkan SDM Holistik
di SMK. Seminar Nasional
Telisik Hambatan Pelaksanaan SMK Dan Solusinya, Jurusan Pendidikan Teknik Mesin UNNES, 1–14. http://staffnew.uny.ac.id/upload/132297916/penelitian/Problem+Based+Learning+di+SM K.pdf
Sari, D. K., & Sumardi. (2015). Efektivitas Strategi Pembelajaran Problem Based Learning dan Project Based Learning Ditinjau dari Motivasi Belajar Siswa pada Kompetensi Segi Empat pada Siswa Kelas VII Semester Genap Tahun Ajaran 2014/2015 [Universitas Muhammadiyah Surakarta]. http://eprints.ums.ac.id/id/eprint/33104
Komentar
Posting Komentar